Pembedah utama dalam acara ini adalah Muhammad Khoiru Royyan, mahasiswa Prodi HTN sekaligus Duta Baca Perpustakaan 2024. Dalam paparannya, Royyan mengajak mahasiswa untuk lebih kritis dalam menghadapi dinamika media digital. Ia menekankan pentingnya memahami etika dan regulasi hukum dalam bermedia sosial.
“Media baru memberikan kebebasan berekspresi, tetapi juga membawa tantangan seperti penyebaran informasi yang keliru hingga potensi pelanggaran hukum. Mahasiswa harus menjadi generasi yang cerdas dan produktif dalam memanfaatkan ruang digital,” ujar Royyan.
Diskusi semakin hidup dengan kehadiran sembilan mahasantri GSM, yang juga penulis antologi Remaja & New Media. Salah satu penulis, Tsania Afrida, berbagi pengalaman menulis esai yang merefleksikan tantangan remaja di era digital. Sesi interaktif pun tercipta, dengan peserta aktif berdiskusi tentang etika digital, kebebasan berekspresi, dan tantangan regulasi di dunia maya. Dialog ini memperkaya wawasan dari berbagai perspektif, termasuk hukum, sosial, dan budaya.
Kepala Perpustakaan UIN Gus Dur, dalam sambutannya, mengapresiasi antusiasme mahasiswa dan penulis dalam kegiatan ini. “Bedah buku ini menjadi bukti bahwa karya mahasiswa memiliki nilai ilmiah yang layak didiskusikan. Perpustakaan akan terus mendukung kegiatan literasi untuk memperkuat budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis di kalangan civitas akademika,” ungkapnya.
Acara ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi terhadap karya mahasiswa, tetapi juga momentum untuk memupuk semangat literasi dan produktivitas akademik. Kolaborasi antara Duta Baca Perpustakaan, mahasiswa HTN, dan penulis muda GSM diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa UIN Gus Dur untuk terus berkarya di tengah derasnya arus informasi digital.