Acara ini tak hanya jadi ajang edukasi kepemiluan, tetapi juga ruang reflektif untuk melihat lebih dalam bagaimana proses penyelenggaraan dan pengawasan Pilkada 2024 di Jawa Tengah berlangsung. Yang menarik, acara ini sekaligus menjadi momen perdana pemutaran film dokumenter “Mengurai Sengketa Pilkada 2024”, yang mengupas berbagai dinamika penyelesaian sengketa pemilu dari kacamata pengawas di lapangan.
Narasumber:
- Wahyudi Sutrisno, SH., MH. – Anggota BAWASLU Provinsi Jawa Tengah
- Ayon Diniyanto, S.H., M.H. – Dosen UIN Gus Dur Pekalongan
- Mohamad Tohir – Ketua BAWASLU Kabupaten Pekalongan
- Laelatul Izah – Ketua KPU Kabupaten Pekalongan
Ketua Bawaslu Kabupaten Pekalongan, Mohamad Tohir, menjelaskan bahwa kampus dipilih karena merupakan ruang strategis untuk memperkuat literasi politik dan partisipasi demokrasi di kalangan muda.
“Ini kesempatan langka. Kami ingin mahasiswa bisa melihat langsung seperti apa tantangan dan realita pengawasan Pilkada. Bukan hanya belajar dari teori, tapi juga dari kejadian nyata,” ujar Tohir.
Ia juga menekankan bahwa pemilu bukan sekadar peristiwa politik lima tahunan, melainkan bagian dari proses panjang membangun demokrasi yang sehat.
“Harapannya, mahasiswa tidak hanya menjadi penonton dalam demokrasi, tapi ikut menjadi pengawal prosesnya—agar lebih jujur, adil, dan bermartabat,” tambahnya.
Dekan Fakultas Syariah, Prof. Dr. H. Maghfur, M.Ag., menyambut positif kolaborasi ini dan merasa bangga kampusnya dipilih sebagai tuan rumah.
“Kami merasa bangga dan tersanjung. Dari banyak kampus di Jawa Tengah, justru UIN Gusdur yang dipilih untuk launching perdana film dokumenter ini. Ini adalah kehormatan luar biasa bagi kami,” ujarnya.
Dalam sambutannya, beliau mengajak mahasiswa untuk aktif merefleksikan jalannya pemilu dan tidak cepat memberi label tanpa analisis mendalam.
“Banyak yang bilang Pilkada 2024 adalah pemilu terburuk. Tapi kita harus cermati dengan alat ukur yang tepat. Di sinilah pentingnya ruang akademik untuk refleksi kritis,” jelasnya.
Beliau juga menegaskan bahwa meskipun demokrasi bukan sistem yang sempurna, tidak ada sistem lain yang lebih baik saat ini. Maka pengawasan, transparansi, dan akuntabilitas harus menjadi bagian dari kultur demokrasi, yang tidak hanya ditopang oleh lembaga seperti BAWASLU dan KPU, tapi juga oleh masyarakat kampus.
Rangkaian Kegiatan:
- Pemutaran perdana film dokumenter “Mengurai Sengketa Pilkada 2024”
- Talk show dan diskusi interaktif bersama mahasiswa Fakultas Syariah UIN Gusdur
- Penguatan sinergi antara pengawas pemilu, penyelenggara, dan masyarakat kampus
- Antusiasme tinggi mahasiswa, dengan banyak yang aktif bertanya dan menyampaikan pandangan kritis
Wahyudi Sutrisno menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menjaga kualitas demokrasi:
“Pemilu bukan sekadar memilih, tapi membangun demokrasi. Mahasiswa harus jadi aktor utama dalam mengawal jalannya pemilihan yang adil.”
Laelatul Izah dari KPU Kabupaten Pekalongan menambahkan:
“Kesadaran politik masyarakat harus dibentuk sejak dini. Kampus adalah ruang awal yang ideal untuk pendidikan pemilih.”
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara lembaga pemilu dan kampus bisa menciptakan ruang belajar yang hidup dan bermakna. BAWASLU berharap, dari kampus-kampus seperti UIN Gusdur inilah akan lahir generasi muda yang peduli, kritis, dan siap menjaga integritas demokrasi Indonesia di masa depan.
Tonton siaran ulang di YouTube:
https://www.youtube.com/live/RkwdXle1MA0?si=EItyoFYY45w0egIO